Senin, 30 Desember 2019
Sabtu, 08 Juni 2019
Puisi 33 Secara tiba tiba
SECARA TIBA - TIBA
Puisi by Abu Sahir
secara
tiba-tiba
matahari berhenti pantulkan cahaya
secara tiba-tiba
rembulan tak bisa sinari malamnya
secara tiba-tiba
............
sang kawi tak mampu goreskan pena
secara tiba-tiba
abimanyu tak mampu menahan
tusukan panah lawan
secara tiba-tiba
...........
glosarium tak mampu artikan lagi kata-kata
secara tiba-tiba
gurindam pun tak lagi enak didengarnya
secara tiba-tiba
...........
namun,
pula secara tiba-tiba
nyanyian sebuah lukisan
dalam otak kanan
bersenandung menawan
apa yang datang secara tiba-tiba
senandung kirimkan
sinyal-sinyal rumah, taman dan lukisan
ke saraf penglihatan
mendatangkan gerimis berkepanjangan
mengantarkan pada sajadah basah
sampai waktu kala senja bersimbah darah
oleh tusukan panah jarum jam terarah
secara tiba-tiba,
senandung lukisan taman otak kanan
kuasai jiwa dalam kesunyian.
//21.04.14//
tiba-tiba
matahari berhenti pantulkan cahaya
secara tiba-tiba
rembulan tak bisa sinari malamnya
secara tiba-tiba
............
sang kawi tak mampu goreskan pena
secara tiba-tiba
abimanyu tak mampu menahan
tusukan panah lawan
secara tiba-tiba
...........
glosarium tak mampu artikan lagi kata-kata
secara tiba-tiba
gurindam pun tak lagi enak didengarnya
secara tiba-tiba
...........
namun,
pula secara tiba-tiba
nyanyian sebuah lukisan
dalam otak kanan
bersenandung menawan
apa yang datang secara tiba-tiba
senandung kirimkan
sinyal-sinyal rumah, taman dan lukisan
ke saraf penglihatan
mendatangkan gerimis berkepanjangan
mengantarkan pada sajadah basah
sampai waktu kala senja bersimbah darah
oleh tusukan panah jarum jam terarah
secara tiba-tiba,
senandung lukisan taman otak kanan
kuasai jiwa dalam kesunyian.
//21.04.14//
Selasa, 21 Mei 2019
Puisi 32 Tertusuk panah senja
TERTUSUK PANAH SENJA
Puisi by Abu Sahir
yang terbang
melayang bukanlah elang,
yang berlari cepat bukanlah kuda,
yang beracun bukanlah bisa,
yang memabukkan bukanlah arak,
yang hilang bukanlah menara,
yang ada bukanlah raga,
yang gelap bukanlah malam,
yang terang bukanlah siang,
tapi, senja
yang terbang,
yang berlari,
yang beracun,
yang berbisa,
yang hilang,
yang ada,
yang gelap.
yang terang,
yang tersisa
adalah senja
senja adalah nafas
nafas adalah hidup
hidup adalah mati
mati adalah senja.
@.08.04.2014
melayang bukanlah elang,
yang berlari cepat bukanlah kuda,
yang beracun bukanlah bisa,
yang memabukkan bukanlah arak,
yang hilang bukanlah menara,
yang ada bukanlah raga,
yang gelap bukanlah malam,
yang terang bukanlah siang,
tapi, senja
yang terbang,
yang berlari,
yang beracun,
yang berbisa,
yang hilang,
yang ada,
yang gelap.
yang terang,
yang tersisa
adalah senja
senja adalah nafas
nafas adalah hidup
hidup adalah mati
mati adalah senja.
@.08.04.2014
Puisi 31 Cinta Melambat
CINTA MELAMBAT
cinta kini berjalan merambat lambat
entah sedang malas bangkit, ataukah
mengalah terserah pasrah
sedangkan,
benci kini berjalan cepat kilat
membakar hanguskan yang terlewat
sebarkan virus-virus berkarat
cepat,
dahsyat,
ia menyebar ke dalam jiwa raga
hingga buat hati tak berdaya
dan kini : " aku melihat "
sebuah permata cinta
ditenggelamkan ke dalam lumpur
dan kini : " aku mendengar "
sebuah do'a berpijak pada nista
dan kini : " aku merasa "
ada sebuah kata merobek kain jasa
ada sebuah langkah berbeda dan membeda
aku adalah mereka
yang sama dalam merasa
menyesali yang terjadi
melihat, mendengar, dan merasa
hawa panas tak biasa
sengatannya tajam terasa
walau aku tak bermain di dalamnya
aku hanya ingin melihat bendera berbeda berkibar
bersama
tanpa membeda-bedakan yang berbeda
karena tujuan kita sama.
_03Mei2014_
entah sedang malas bangkit, ataukah
mengalah terserah pasrah
sedangkan,
benci kini berjalan cepat kilat
membakar hanguskan yang terlewat
sebarkan virus-virus berkarat
cepat,
dahsyat,
ia menyebar ke dalam jiwa raga
hingga buat hati tak berdaya
dan kini : " aku melihat "
sebuah permata cinta
ditenggelamkan ke dalam lumpur
dan kini : " aku mendengar "
sebuah do'a berpijak pada nista
dan kini : " aku merasa "
ada sebuah kata merobek kain jasa
ada sebuah langkah berbeda dan membeda
aku adalah mereka
yang sama dalam merasa
menyesali yang terjadi
melihat, mendengar, dan merasa
hawa panas tak biasa
sengatannya tajam terasa
walau aku tak bermain di dalamnya
aku hanya ingin melihat bendera berbeda berkibar
bersama
tanpa membeda-bedakan yang berbeda
karena tujuan kita sama.
_03Mei2014_
Minggu, 12 Mei 2019
Sabtu, 11 Mei 2019
Kamis, 09 Mei 2019
Jumat, 03 Mei 2019
Ziaroh Ke Makam Sunan Kalijaga
Sunan Kalijaga atau Sunan Kalijogo adalah seorang tokoh Wali Songo yang sangat lekat dengan Muslim di Pulau Jawa, karena kemampuannya memasukkan pengaruh Islam ke dalam tradisi Jawa. Makamnya berada di Kadilangu, Demak.
Riwayat
Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan demikian ia mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan Senopati. Ia ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang "tatal" (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga.Kelahiran
Sunan Kalijaga diperkirakan lahir pada tahun 1450 dengan nama Raden Said. Dia adalah putra adipati Tuban yang bernama Tumenggung Wilatikta atau Raden Sahur. Nama lain Sunan Kalijaga antara lain Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban, dan Raden Abdurrahman. Berdasarkan satu versi masyarakat Cirebon, nama Kalijaga berasal dari Desa Kalijaga di Cirebon. Pada saat Sunan Kalijaga berdiam di sana, dia sering berendam di sungai (kali), atau jaga kali.Silsilah
Terkait asal usulnya, ada dua pendapat yang berkembang. Pendapat pertama, adalah yang menyatakan Sunan Kalijaga orang Jawa asli. Pendapat ini didasarkan pada catatan historis Babad Tuban. Di dalam babad tersebut diceritakan, Aria Tejaalias 'Abdul Rahman berhasil mengislamkan Adipati Tuban, Aria Dikara,
dan mengawini putrinya. Dari perkawinan tersebut Aria Teja kemudian
memiliki putra bernama Aria Wilatikta. Catatan Babad Tuban ini diperkuat
juga dengan catatan masyhur penulis dan bendahara Portugis
Tome Pires (1468 - 1540). Menurut catatan Tome Pires, penguasa Tuban
pada tahun 1500 M adalah cucu dari peguasa Islam pertama di Tuban yakni
Aria Wilakita, dan Sunan Kalijaga atau Raden Mas Said adalah putra Aria
Wilatikta. Adapun pendapat yang kedua adalah menyatakan Sunan Kalijaga
adalah keturunan arab. Pendapat kedua ini disebut-sebut berdasarkan
keterangan penasehat khusus Pemerintah Kolonial Belanda, Van Den Berg
(1845 – 1927), yang menyatakan bahwa Sunan Kalijaga adalah keturunan Arab yang silsilahnya sampai ke Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Sejarawan lain seperti De Graaf juga menilai bahwa Aria Teja I ('Abdul Rahman) memiliki silsilah dengan Ibnu Abbas, paman Muhammad.
Pernikahan
Dalam satu riwayat, Sunan Kalijaga disebutkan menikah dengan Dewi Saroh binti Maulana Ishak, dan mempunyai 3 putra: R. Umar Said (Sunan Muria), Dewi Rakayuh dan Dewi Sofiah. Maulana Ishak memiliki anak bernama Sunan Giri dan Dewi Saroh. Mereka adalah kakak beradik.Berda'wah
Menurut cerita, Sebelum menjadi Walisongo,Raden Said adalah seorang perampok yang selalu mengambil hasil bumi di
gudang penyimpanan Hasil Bumi di kerajaannya, merampok orang-orang yang
kaya. Hasil curiannya, dan rampokanya itu akan ia bagikan kepada
orang-orang yang miskin. Suatu hari, Saat Raden Said berada di hutan, ia
melihat seseorang kakek tua yang bertongkat. Orang itu adalah Sunan Bonang.
Karena tongkat itu dilihat seperti tongkat emas, ia merampas tongkat
itu. Katanya, hasil rampokan itu akan ia bagikan kepada orang yang
miskin. Tetapi, Sang Sunan Bonang tidak membenarkan cara itu. Ia menasihati Raden Said bahwa Allah S.W.T
tidak akan menerima amal yang buruk. Lalu, Sunan Bonang menunjukan
pohon aren emas dan mengatakan bila Raden Said ingin mendapatkan harta
tanpa berusaha, maka ambillah buah aren emas yang ditunjukkan oleh Sunan Bonang.
Karena itu, Raden Said ingin menjadi murid Sunan Bonang. RadeN Said
lalu menyusul Sunan Bonang ke Sungai. Raden Said berkata bahwa ingin
menjadi muridnya. Sunan Bonang lalu menyuruh Raden Said untuk bersemedi
sambil menjaga tongkatnya yang ditancapkan ke tepi sungai. Raden Said
tidak boleh beranjak dari tempat tersebut sebelum Sunan Bonang datang.
Raden Said lalu melaksanakan perintah tersebut. Karena itu,ia menjadi
tertidur dalam waktu lama. Karena lamanya ia tertidur, tanpa disadari
akar dan rerumputan telah menutupi dirinya. Tiga tahun kemudian, Sunan
Bonang datang dan membangunkan Raden Said. Karena ia telah menjaga
tongkatnya yang ditanjapkan ke sungai, maka Raden Said diganti namanya
menjadi Kalijaga. Kalijaga lalu diberi pakaian baru dan diberi pelajaran
agama oleh Sunan Bonang. Kalijaga lalu melanjutkan dakwahnya dan dikenal sebagai Sunan Kalijaga. Namun, cerita ini banyak diragukan oleh para sejarawan dan ulama berpaham salaf karena tidak masuk akal dan bertentangan dengan ilmu syariat
Dalam dakwah, ia punya pola yang sama dengan mentor sekaligus sahabat dekatnya, Sunan Bonang. Paham keagamaannya cenderung "sufistik
berbasis salaf" -bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Ia juga
memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah.
Ia sangat toleran pada budaya lokal. Ia berpendapat bahwa
masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus
didekati secara bertahap: mengikuti sambil memengaruhi. Sunan Kalijaga
berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama
hilang. Tidak mengherankan, ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis
dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan,
serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Beberapa lagu suluk ciptaannya yang populer adalah Ilir-ilir dan Gundul-gundul Pacul. Dialah menggagas baju takwa, perayaan sekatenan, garebeg maulud, serta lakon carangan Layang Kalimasada dan Petruk Dadi Ratu
("Petruk Jadi Raja"). Lanskap pusat kota berupa kraton, alun-alun
dengan dua beringin serta masjid diyakini pula dikonsep oleh Sunan
Kalijaga.
Metode dakwah tersebut sangat efektif. Sebagian besar adipati di
Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga; di antaranya adalah adipati Pandanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang.
Wafat
Ketika wafat, ia dimakamkan di Desa Kadilangu, dekat kota Demak (Bintara). Makam ini hingga sekarang masih ramai diziarahi orang - orang dari seluruh indonesiaSelasa, 23 April 2019
Mekarnya Bunga Wijaya Kusuma tepat Malam Nisfu Sya'ban
Malam Nisfu sya'ban Bersama Mekarnya Sang Ratu Malam Bunga Wijaya Kusuma.
Jumat, 29 Maret 2019
Selasa, 26 Februari 2019
Rabu, 30 Januari 2019
Senin, 28 Januari 2019
Puisi 27 Dilemahkan
DILEMAHKAN
Hembusan angin
memaksa,
tanganku meng"klik" huruf A,
padahal ada B disana, mestinya . . . .
Apakah kode dan warna serta bendera hanya MAINAN saja ?
~
memaksa,
tanganku meng"klik" huruf A,
padahal ada B disana, mestinya . . . .
Apakah kode dan warna serta bendera hanya MAINAN saja ?
~
Minggu, 27 Januari 2019
Puisi 26 Rindu
RINDU
Terbitlah
jangan sembunyi
sinarmu tlah lama kunanti
spanjang hari
tanpa lelah hati
menjaga cinta dalam hati
~
jangan sembunyi
sinarmu tlah lama kunanti
spanjang hari
tanpa lelah hati
menjaga cinta dalam hati
~
Jumat, 25 Januari 2019
Puisi 25 Senja
SENJA
Matahari senja
engkau melahap habis siangku
gelapkan warna-warnaku
semukan pandangku
bulan jingga
engkau tlah kalahkan semua cahaya
obor yang menyala
mati tak bernyawa
tak ada dan bila
tak ada pula andai saja
engkau melahap habis siangku
gelapkan warna-warnaku
semukan pandangku
bulan jingga
engkau tlah kalahkan semua cahaya
obor yang menyala
mati tak bernyawa
tak ada dan bila
tak ada pula andai saja
Langganan:
Postingan (Atom)